RSS

Fisiologi Kebuntingan Ternak

07 Jul

FISIOLOGI KEBUNTINGAN

 

JURUSAN PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2012

 

 

 

BAB. I  PENDAHULUAN

 

Periode atau masa kebuntingan adalah jangka waktu sejak pembuahan atau konsepsi sampai partus atau kelahiran anak. Selama periode ini sel – sel tunggal membagi diri dan berkembang menjadi induvidu yang sempurna. Periode antenatal ini adlah periode kehidupan yang paling sedikit diketahiu tetapi mungkin paling penting. Angka kematian ovum, embrio atau fetus selama periode kebuntingan jauh lebih besar dari pada angka kematian untuk periode mana saja yang sama lamanya sesudah kelahiran. Karena umumnya tidak diketahui, kematian ovum yang sudah dibuahi atau kematian embrio dini yang berakhir dengan reabsorbsi atau abortus sering dinyatakan sebagai sterilitas atau infertilitas. Pengeluaran embrio atau fetus mati yang telah mencapai ukuran yang dapat diamati disebut abortus. Pengeluaran anak yang hidup disebut partus atau kelahiran. Individu antenatal atau fetus terdapat didalam uterus dan dapan dipalpasi melalui dinding perut atau melalui dinding rectum. Fetus yang mati dapat diabortuskan atau dikeluarkan sebelum atau pada akhir periode kebuntingan. Anak sapi atau kerbau hanya lahir hidup dan istilah “lahir mati” sebenarnya kurang tepat. Istilah stillbirth umumnya dipakai pada babi dimana anaknya dikeluarkan dalam keadaan mati pada waktu partus. Anak yang lahir hidup sebelum akhir periode kebuntingan yang normal disebut anak premature. Kelahiran tersebut adalah kelahiran premature atau kelahiran belum pada waktunya

 

 

 

 

 

 

BAB. II  PEMBAHASAN

 

  1. Lama kebuntingan

Lama kebuntingan dihitung dari waktu perkawinan yang fertile sampai terjadi partus atau kelahiran. Periode kebuntingan berbeda dari bangsa ke bangsa ternak dan beberapa persilangan tertentu.  Lama kebuntingan spesies hewab pelihara secara genetis sudah tertentu, meskipun juga sedikit dipengaruhi oleh faktor – faktor induk, fetus, dan lingkungan. Faktor induk memperngaruhi lama kebuntingan pada berbagai spesies, semakin tua umur induk semakin lama periode kebuntingan. Factor fetus juga dapat mempengaruhi lama kebuntingan. Semakin banyak jumlah anak yang dikandung (litter size) pada hewan multipara lama kebuntingan semakin pendek, begitu pula sebaliknya jumlah anak semakin sedikit lama kebuntingan semakin panjang. Pada hewan unipara kebuntingan kembar atau multiple mempunya lama kebuntingan lebih pendek. Hal ini disebabkan karena jumlah anak yang banyak perkembangan uterusnya menjadi lebih cepat, selain itu hormon yang diperlukan untuk proses kelahiran menjadi lebih banyak dibandingakan kelahiran tunggal. Jenis kelamin juga berpengaruh terhadap lama kebuntingan; biasanya fetus jantan menyebabkan kebuntingan berlangsung lebih lama 1 sampai 2 hari dari pada fetus betina. Ukuran fetus juga memengaruhi lama kebuntingan , yaitu fetus yang lebih besar akan semakin lama kebuntingannya dibandingkan fetus yang lebih kecil, karena ukuran fetus memengaruhi lama kebuntingan dengan mempercepat waktu inisiasi kelahiran. Faktor genetis mempengaruhi lama kebuntingan sebagai contoh perkawinan silang akan berbeda lama kebuntingannya dibandingkan dengan perkawinan dalam. Penyakit – penyakit yang mengganggu kesehatan endometrium, fetus dan plasenta dapat menyebabkan abortus atau pemendekan waktu kebuntingan, selain itu pemendekan waktu kebuntingan juga dapat disebabkan oleh kekurangan gizi, penyakit defisiensi, kelaparan dan stres. Kebuntingan yang diperpanjang kemungkinan disebabkan karena ;

  1. Penyuntikan progesterone dalam jumlah besar secara berkesinambungan. Fetus mati dalam waktu 1 bulan setelah periode kebuntingan normal dan bermaserasi atau bermumifikasi.
  2. Defiseinsi vitamin A menyebabkan perpanjangan masa kebuntingan selama satu sampai empat minggu.
  3. Abnormalitas fetus, meliputi fetus terlalu besar dan berambut panjang, fetus kerdil berhidrocephalus, berkaki pendek dan tak berbulu, dan fetus mempunyai hernia cerebralis.
  4. Pengaruh hormon-hormon gonadotropin dan adrenal. Aplasia, hypoplasia atau kerusakan kelenjar hypopisa pada fetus, dan aplsia serta hypoplasia kelenjar adrenal menyebabkan pepanjangan waktu kebuntingan.

 

 

  1. Perubahan – perubahan organ reproduksi selama kebuntingan

Perubahan pada vulva dan vagina, dengan bertambahnya usia kebuntingan vulva semakin oedematus dan vaskuler. Perubahan pada vulva sapi terlihat jelas dibandingkan kuda, perubahan terjadi sekitar bulan ke-5 sampai bulan ke-7 kebuntingan. Mukosa vagina pucat dan likat kering selama kebuntingannya, namun pada akhir kebuntingan menjadi oedematus dan lembek. Perubahan tang terjadi pada serviks selama kebuntingan yaitu os externa cerviks tertutup rapat. Kripta endoservikal bertambah jumlahnya dan menghasilkan lendir atau mucus yang sangat kental serta menyumbat analis sevicis. Mucus ini disebut sumbat serviks atau sumbat mucus kebuntingan yang akan mencair segera sebelum partus dan dikeluarkan dalam bentuk tali – tali mucus. Perubahan pada uterus yaitu semakin membesar secara progresif dengan melajutnya kebuntingan untik memungkinkan pertumbukah fetus, tetapi myometrium tetap tenang dan tidak berkontraksi untuk mencegah terjadinya pengeluaran fetus premature. Terjadi 3 fase adaptasi uterus untuk member tempat bagi embrio atau fetus, yaitu ; proliferasi, pertumbuhan dan peregangan. Mekanisme yang memungkinkan terjadinya peningkatan ukuran uterus dengan pesat belum diketahui dengan jelas, tetapi kemungkinan diatur secara hormonal. Proliferasi endometrium terjadi sebelum pertautan blastocyt dan bersifat sebagai sensitisasi endometrium oleh progesterone. Dengan adanya hormone progesterone menyebabkan peningkatan vaskularisasi, pertumbuhan dan perkembangan kelenjar uterine, serta infiltrasi leukosit ke dalam lumen uterus.

Pertumbuhan uterus terjadi setelah implantasi, kemudian terjadi hypertrofi muskuler, suatu pertambahan ekstensive jaringan ikat dasar dan kolagen. Perubahan struktur yang terjadi selama kebuntingan bersifat reversible artiya strukturnya akan segera kembali seperti semula setelah kelahiran.

Selama periode peregangan uterus, pertumbuhannya berkurang tetapi isi uterus berkembang dengan pesat. Pada semua hewan piara uterus beserta isinya tertarik kedepan dan kebawah masuk ke ruang abdomen seiring dengan semakin tuanya umur kebuntingan. Pada kuda dan sapi, uterus terletak pada lantai abdomen setelah bulan ke-4 kebuntingan. Uterus ruminansia yang bunting terletak disisi kanan abdomen, karena sisi kiri ditempati rumen. Panjang fetus pada akhir kebuntingan membentang diantara diafragma dan pelvis. Mesometrium atau ligamenta lata uteri tertarik dan menjadi tegang oleh beratnya fetus dan uteri yang bunting. Uterus sapi  dan kuda bunting berbentuk tubuler memanjang, sedangkan cornue yang tidak bunting relatif tetap kecil.

Perubahan pada ovarium antara lain berupa terbentuknya korpus luteum dari follicle de graaf. Bila korpus luteum tetap ada atau persisten akibat adanya konsepsi, maka akan berubah menjadi korpus luteum ferum dan siklus estrus akan terhenti. Beberapa sapi, terutama sapi perah dapat mengalami birahi pada awal kebuntingan karena adanya aktivitas folikuler di dalam ovarium. Pada kuda, 1-15 follikel berkembang antara hari ke-40 sampai 160 kebuntingan, akhirnya mengalami luteinisasi dan terbentuklah corpora lutea assesoria.

Korpus luteum kebuntingan sapi dan kebanyakan hewan piara lainnya akan tetap dalam ukuran maksimumnya sepanjang kebutingan. Pada kuda, korpus luteum primer dan corpora lutea assesoria akan mengalami regresi menjelang bulan ke-7 kebuntingan.

Perubahan ligementa dan symphisis pubis yaitu relaksasi ligamenta pelvis tang terjadi sejak awal kebuntingan, menjadi lebih progresif dengan mendekatnya proses kelahiran. Relaksasi nya lebih jelas terlihat pada sapi dan domba dari pada kuda, hal ini disebabkan oleh tingginya kadar estrogen pada kebuntingan lanjut  dan kerja hormone relaksin. Bagian kaudal dari ligament sacroisciatica menjadi lebih rileks dan kendor dengan mendekatnya kelahiran.

 

  1. Posisi fetus dalam uterus

Selama pertengahan pertama kebuntingan, fetus dapat terletak dala bergabai arah. Dengan semakin melanjutnya umur kebuntingan, fetus mengambil posisi longitudinal terhadap sumbu panjang induk. Umbilicus fetus pada sapi dan domba mengarah ke curvature minor uterus, sedang punggungnya mengarah ke curvature mayor. Pada kuda, babi, anjing dan kucing fetus terletak dengan punggungnya mengarah ke dinding abdomen. Menjelang kelahiran, fetus merotasi sampai punggungnya mengarah ke punggung induk. Pada kuda 95% fetus berada pada presentasi anterior dengan kedua kaki depannya mengarah ke ruang pelvis menjelang 6 bulan kebuntingan. Rotasi fetus kuda dimungkinkan oleh rotasi kantong amnion dan fetus disalam ruang allantois.

Menjelang akhir kebuntingan pada sapi, fetus berada pada presentai anterior dengan kepala dan kedua kaki depannya mengarah ke serviks (95%), begitu pula pada fetus domba. Menjelang akhir kebuntingan 54% fetus babi dan 70% fetus anjing berada pada presentasi anterior.

 

  1. Jumlah fetus dalam uterus

Berdasarkan jumlah ovum yang di ovulasikan atau jumlah fetus yang dikandung tiap kebuntingan, hewan piara dibedakan menjadi 2 kelompok : unipara(monotocosa) dan multipara(polytocosa).

Hewan unipara seperti kuda dan sapi, hanya satu ovum yang dibebaskan setiap kali ovulasi sehingga hanya satu fetus yang berkembang di dalam uterus. Kadang – kadang pada jenis hewan ini dikumpai kembar atau kembar tiga. Kelompok hewan unipara memiliki ciri serviks yang berkembang baik, plasenta mengisi kedua belah cornue uteri dan juga corpus uteri. Berat lahir fetus unipara lebih kurang 10% dari berat induknya. Domba dan kambing sebetulnya juga termasuk kelompok ini, namun karena kelahiran kembar sering terjadi sehingga terkadang disebut bipara.

Hewan multipara seperti anjing, kucing dan babi setiap kali ovulasi dibebeaskan 3-15 ovum atau lebih, dan umumnya memepunyai anak lebih dari 2 anak setiap kebuntingan. Pada umumnya hewan kelompok ini mempunyai serviks yang kurang berkembang baik, plasentanya untuk tiap vetus hanya terbatas pada bagian cornue yang diduduki saja. Fetus terdistribusi hampir sama pada kedua belah cornue. Berat tiap fetus kurang lebih 1-3% dari berat induknya. Jumlah fetus pada hewam multipara babi 6-12 ekor, anjing ras besar 6-10 ekor,dan kucing 3-5 ekor.

Hewan betina yang belum pernah bunting dan beranak disebut nullipara, bunting sekali disebut primipara, dan pernah bunting 2 kali atau lebih disebut pluripara.

 

 

 

  1. Kebuntingan kembar pada hewan unipara

Sapi dan kerbau termasuk hewan unipara yang secara normal melepaskan satu ovum sewaktu ovulasi dan hanya satu fetus yang berkembang di dalam uterus. Terkadang terjadi kembar dua dan jarang sekali kembar tiga. Kelahiran kembar atau majemuk pada unipara tidak diinginkan dan dalam banyak hal bersifat patologik serta sering berbahaya terhadap induk maupun fetus. Kejadian abortus untuk kebuntingan kembar sesudah tiga bulan masa kebuntingan adalah lebih besar dari pada kebuntingan tunggal. Kira – kira 30-40% kebuntingan kembar berakhir dengan abortus. Presentase ini kadang – kadang menigkat mencapai 50%. Pada kebuntingan tunggal yang normalnya 3-5% berakhir dengan abortus. Angka konsepsi sesudah ovulasi kembar hanya setengah dari ovulasi tunggal.

Banyak kebuntingan kembar berakhir dengan premature. Periode kebuntingan kembar umumnya 5 hari lebih singkat dari pada kebuntingan tunggal. Kejadian abortus dan kelahiran premature adalah lebih tinggi pada triplet dan kebuntingan majemuk lainnya. Sedikit sekali turunan betina fertil yang berhubungan dengan sifat kembar.

Anak kembar biasanya lebih kecil dan lebih lemah dari pada anak tunggal. Hal ini mungkin disebabkan Karena berkurangnya daerah plasenta atau berkurangnya zat makanan yang tersedia untuk setiap fetus, dan Karena penyingkatan periode kebuntingan.

Distokia pada akhir kebuntingan kembar juga lebih sering terjadi dibandingkan dengan pada kelahiran tunggal. Hal ini terjadi karena beberapa sebab termasuk kehilangan tonus uterus yang berkembang, adanya fetus yang mati dan menggembung, letak fetus kembar yang menyilang, dan sering terjadinya letak sungsang pada salah satu fetus. Sebab – sebab kelahiran kembar perlu diketahui agar dapat dicegah. Sebab – sebab tersebut dapat dibagi atas pengaruh lingkungan dan pengaruh herediter
pengaruh lingkungan terdiri dari musim, umur induk, perkawinan yang terlampau cepat, sesudah melahirkan dan penyuntikan hormone FSH. Musin mungkin mempunyai pengaruh terhadap kebuntingan kembar dan berhubungan dengan perbaikan makanan pada permulaan musim hujan. Umur induk ikut mempengaruhi kebuntingan kembar. Kejadian kembar jarang terjadi pada induk muda dan makin sering dengan meningkatnya umur, kemudian menurun lagi pada hewan tua.

Pengaruh herediter meliputi perbedaan bangsa, perbedaan antara induk dan pejantandan sista ovaria. Perbedaan bangsa dalam kejadian kembar dapat dilihat dari kenyatan bahwa kembar sering terjadi pada bangsa sapi perah dan jarang pada bangsa sapi potong.

 

  1. Lama dan daya reproduksi

Lama kesanggupan reproduksi ternak pada dasarnya tergantung pada dua factor. Pertama, kehidupan reproduktif ternak terhenti apabila pada umur kapan saja terjadi kelemahan fisik karena penyakit, kekurangan makan kerena kehilangan gigi pada umur tua dan kekurusan. Kedua, kegiatan reproduksi terhenti apabila organ – organ reproduksi mengalami kerusakan atau fungsinya hilang karena faktor – faktor penyakit. Pada hewan betina penyakit – penyakit yang menghambat reproduksi terutama mempengaruhi endometrium dan lapisan epitel pada saluran reproduksi dan jarang mempengaruhi ovarium. Pada hewan jantan perubahan – perubahan patologik di dalam tubuli seminiferi pada testes yang disebabkan oleh penyakit, trauma atau perubahan senil, adalah sebab – sebab utama terhentinya kesanggupan reproduksi.

Lama kehidupan reproduktif pada sapi perah rata – rata sampai umur 8-10 tahun dengan produksi 4-6 anak. Pada sapi potong umur kehidupan reproductif lebih lama, 10-12 tahun dengan produksi anak 6-8 anak. Kerbau lumpur masi dapat bereproduksi sampai umur 12 tahun (vendragon,1973).

Monopouse, yang ditandai dengan terhentinya menstruasi karena tidak lagi terjadi pembentukan dan pelepasan ovum, tidak dikenal peternak. Penghentian produksi oosit pada ovarium dan penghentian siklus birahi pada ternak belum pernah diobservasi.

Daya reproduksi ternak pada dasarnya dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu lama kehidupan reproduktif dan frekuensi kelahiran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III.  KESIMPULAN

 

kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan di atas adalah :

  1. Lama kebuntingan dipengaruhi oleh faktor induk, faktor fetus, faktor genetis serta faktor ligkungan.
  2. Organ – organ reproduksi pada saat kebuntingan akan mengalami perubahan dengan berbagai variasi untuk tempat berkembangnya fetus.
  3. Berdasarkan jumlah ovum yang di ovulasikan atau jumlah fetus yang dikandung tiap kebuntingan, hewan piara dibedakan menjadi 2 kelompok : unipara(monotocosa) atau satu anak dan multipara(polytocosa) lebih dari 2 anak sedangkan domba dan kambing disebut hewan bipara (beranak dua).
  4. Pada hewan unipara kebuntingan kembar sangat berbahaya karena dapat menyebabkan abortus dan distokia serta kelahiran prematur.
  5. Lama dan daya reproduksi dipengaruhi oleh dua factor yaitu penyakit dan kerusakan organ reproduksi.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Suharyati,Sri.dkk.2003. Buku Ajar Ilmu Reproduksi.Jurusan Reproduksi Ternak FP Unila:Bandar Lampung

Toelihere,mozes R.1985.Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau.Jakarta:UI Press.

Vendragon,X.A.,”field observation on buffalo breeding and management:,Mal.vet.J.,5:71.1973.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Juli 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: