RSS

POTENSI LIMBAH KULIT KAKAO UNTUK PAKAN TERNAK DI KECAMATAN GEDONG TATAAN

09 Jul

 

 

 

POTENSI LIMBAH KULIT KAKAO UNTUK PAKAN TERNAK

DI KECAMATAN GEDONG TATAAN

 

Oleh

Tri Haryanto Saputra

1014061061

JURUSAN PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2012

 

 

  1. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang

Hambatan utama petani ternak khususnya dalam peningkatan populasi ternak yaitu terbatasnya pakan. Perluasan areal untuk penanaman rumput sebagai pakan ruminansia sangat sulit, karena alih fungsi lahan yang sangat tinggi. Mengingat sempitnya lahan penggembalaan, maka usaha pemanfaatan sisa hasil (limbah) pertanian untuk pakan perlu dipadukan dengan bahan lain yang sampai saat ini belum biasa digunakan sebagai pakan. Limbah tanaman pangan dan perkebunan memiliki peran yang cukup penting dan berpotensi dalam penyediaan pakan hijauan bagi ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba dan kerbau terutama pada musim kemarau. Pada musim kemarau hijauan rumput terganggu pertumbuhannya, sehingga pakan hijauan yang tersedia kurang baik dari segi

kuantitas maupun kualitas.

Limbah pertanian dan perkebunan belum banyak dimanfaatkan walaupun dalam beberapa kondisi memiliki potensi sebagai bahan pakan ternak, hal ini di karenakan ketidaktahuan peternak dalam memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan sebagai pakan ternak yang potensial. Sehingga perlu dilakukan pengamatan dalam mendukung program pemanfaatan limbah potensial. Potensi limbah kulit kakao yang masih banyak dibuang oleh petani, justru potensial sebagai media pengembangan kasus hama penggerek buah kakao Conopomorpha cramerella. Di beberapa lokasi limbah kulit kakao sudah digunakan oleh peternak kambing sebagai bahan pakan yang memberikan keuntungan bagi peternak sehingga diperlukan proses sosialisasi.

Pola usaha terintegrasi antara usaha perkebunan kakao dan usaha ternak kambing di Propinsi Lampung cukup memberikan dampak positif bagi petani di pedesaan khususnya petani perkebunan kakao rakyat (Priyanto et. al, 2004). Pola tersebut memberikan peluang dalam pengembangan pola integrated farming system seperti crop livestock system, dimana kedua sektor usaha tersebut akan tercipta pola usaha yang sinergis yakni tercipta pola efisiensi usaha (perkebunan kakao dan usaha ternak kambing). Hal demikian sekaligus berdampak mampu memberikan nilai tambah pendapatan rumah tangga petani pedesaan.

  1. Tujuan

Pembuatan makalah ini bertujan untuk:

  1. Mengetahui produksi limbah kulit kakao di kecamatan gedong tataan
  2. Agar mahasiswa mengetahui potensi kemempuan kapasitas tampung ternak di wilayah gedong tataan.
  3. Memenuhi syarat tugas akhir mata kuliah padang penggembalaan.

 

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA

 

Tanaman kakao (Theobroma Cacao L) merupakan tanaman perkebunan berumur panjang, mulai berproduksi 3 – 4 tahun setelah tanam, tergantung dari bahan tanaman unggul yang digunakan dan agro-ekosistem pengembangannya. Potensi produksi tanaman kakao unggul seperti ICCRI 01 dan 02, KW 30, 48 dan 162 dapat mencapai 2.160 – 3.200 kg/ha/th dengan berat per biji kering berkisar antara 1,10 – 1,36 g/biji.

Kulit buah kakao merupakan limbah agroindustri yang berasal dari tanaman kakao yang umumnya dikenal dengan tanaman coklat. Komposisi buah kakao terdiri dari 74% kulit, 24% biji kakao dan 2% plasenta. Setelah dilakukan analisis proksimat, kakao mengandung 22% protein dan 3 – 9% lemak (Nasrullah dan Ela, 1993).

Kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai substitusi suplemen 5 – 15% dari ransum pada ternak domba dan pada ternak sapi dapat meningkatkan pbbh 0,9 kg/hari dengan diolah terlebih dahulu. Kulit buah kakao perlu difermentasi terlebih dahulu untuk menurunkan kadar lignin (Anonim, 2001).

Kulit kakao merupakan salah satu potensi pakan ternak kambing yang cukup memberikan prospek terciptanya pola integrasi kakao-kambing, khusunya pada areal perkebunan kakao. Pada usaha pola integrasi tanaman dan ternak di Propinsi Lampung menunjukkan bahwa peternak memberikan kulit kakao sebagai pakan ternak kambing 2-3 kg/ekor/hari ternak dewasa. Hal tersebut cukup membantu peternak dalam mensuplai pakan hijauan mencapai 89,8 %, kambing sangat menyukai sebesar 78,9 % dan sebagai langkah antisipasi kekurangan pakan hijauan sebesar 55,5 % seperti dilaporkan oleh Priyanto et. al., (2004).

Produksi kakao di Indonesia sekarang ini cukup meningkat karena seiring dengan program pemerintah untuk meningkatkan pengembangan tanaman kakao. Selama lima tahun terakhir ini produksi kakao terus meningkat sebesar 7,14% pertahun atau 49,200 ton pada tahun 2004 (Suryana,2005). Jika proporsi lmbah kulit kakao mencapai 74% dari produksi, maka limbah kulit buah kakao mencapai 36408 ton per tahun, maka dari itu limbah kulit buah kakao merupakan suatu potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebgai pakan ternak.

Kulit buah kakao memiliki kandungan gizi sebagai berikut : BK 88 %, PK 8 %, Sk 40 %, TDN 50,8 %. Dan penggunaan oleh ternak ruminansia adalah 30-40 % (Sunanto,1995). Selanjutnya di katakana bahwa pemberian kulit buah kakao secara langsung dapat menurunkan berat badan ternak karena kandungan protein yang rendah dan kadar lignin dan selolusanya yang tinggi. Oleh karena itu sebelum di kasihkan ke ternak sebaiknya di fermentasi dulu untuk menurunkan kadar ligin yang sulit di cerna oleh hewan dan untuk meningkatkan nilai nutrisi yan baik bagi ternak dengan batasan kosentrasi dalam penggunaanya karena mengandung senyawa anti nutrisi theobromin.

Kandungan lignin yang tinngi ini menjadi masalah tersendiri dalam memilih kapang yang akan di gunakan. Kapang yang bisa di gunakan yaitu kapang yang mampu menghasilkan enzim ligniolitik yang mapu merombak an menghancurkan tekstur lignin (Delignifikasi) dinding sel. Dilignifikasi dapat terjadi dengan merombak dan melarutkan yang terkandung dalam kulit buah kakao. Ikatan ligninsilulosa dapat di putus oleh ligninase seperti lignin proksidase (LiP), mangan proksidase (MnP) dan laccase ( Takano et al.2004). enzim LiP dan MnP di hasilkan oleh organism salah satunya adalah P.chrysosporium.

Pada penelitian (Laconi 1998) mengatakan bahwa fermentasi limbah kulitbuah kakao dengan P.chrysosporium dapat menurunkan kandungan lignin sebesar 18,36%. Dengan melihat kemampuan P.chrysosporium dalam menghasilkan lignolitik dan selulotik.

 

  1. METODE KERJA
  1. Cara pehitungan

Pertama mengitung luas areal produksi tanaman kakao di kecamatan gedong tataan, selanjutnya menghitung produksi buah kakao per hektare dan total keseluruhan produksi buah kakao di kecamatan gedong tataan. Setelah itu, menghitung produksi limbah kulit kakao berdasarkan total produksi buah kakao yakni 74% dari buah kakao. Lalu menghitung kebutuhan konsumsi kulit kakao berdasarkan data rekomendasi pemberian kulit kakao pada sapi per harinya dan total konsumsi per tahunnya, dan terakhir menghitung kapasitas tampung ternak yakni, total produksi limbah/tahun dibagi total konsumsi kulit kakao/tahun.

Luas arael tanaman kakao di gedong tataan         : 2.342 ha

Produksi buah kakao/ha/th                                    : 0,92 ton

Produksi buah kakao total                                                : 2154,64 ton/th

 

  1. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
  1. Hasil Pengamatan

Tabel 1.  Luas areal, dan produksi perkebunan kakao rakyat di Kecamatan Gedong Tataan Tahun 1999 – 2002

Tahun

Luas Areal

(Ha)

Produksi

(Ton)

Produktivitas

(Ton/Ha)

1999

2000

2001

2002

   364

   496

2.342

2.342

  158

517

2.191

2.143

0,43

1,04

0,94

0,92

Sumber : BPS Propinsi Lampung, 1999-2002, data diolah.

Tabel 2. Analisis Proksimat Pakan Kulit Buah Kakao Segar dan Fermentasi

Komposisi

Segar (%)

Fermentasi(%)

Bahan Kering

15.5

81.4

Protein Kasar

9.15

14.9

Serat Kasar

32.7

24.7

Lemak

1.25

1.32

BETN

41.2

47.1

Abu

15.4

63.2

TDN

50.5

12.7

Kalsium

0.29

0.21

Posfor

0.19

0.13

Keterangan :  Fermentasi dengan probiotik selama 2 minggu, kering ,matahari

Bahan Ekstrak tanpa Nitrogen ,dihitung dengan rumus Hartadi dkk (1980)

Sumber : A. Prabowo, dkk., 2002.

  Table 3. Rekomendasi pemberian limbah kulit buah kakao

Jenis Ternak

Jumlah

Konsumsi

Bentuk Pemberian

Sapi

3 kg/eor/hari

Segar

Sapi

20% tepung pada pakan tambahan

Tepung

Kambing

2-3 kg/ekor/hari

Segar

Ayam

22% tepung pada ransum ayam

Tepung

Tabel 4. Perhitungan daya dukung kulit kakao dalam mendukung ketersediaan pakan ternak

Uraian

Cara Perhitungan

Hasil Perhitungan

Buah Kakao Kering

100 pohon x 8 kg

800 kg/ha/th

Buah Kakao Basah

100/5 x 800 kg

1600 kg/ha/th

Produksi Kulit Kakao

65/35 x 1600 kg

2.971 kg/ha/th

Kebutuhan Kulit Kakao (sapi)

3 kg x 360 hari

1080 kg/ekor/th

Kebutuhan Kulit Kakao (kambing)

2 kg x 360 hari

720 kg/ekor/th

Daya Dukung Kulit Kakao

2.971 / 720

4,2 ekor/ha/kakao

  1. Pembahasan

Dari hasil pengamatan diperoleh data luas lahan perkebunan kakao(cokelat) di kecamtan Gedong Tataan yakni 2.342 hektare dengan tingkat produktivitas 0,92 ton/ha. Jadi hasil produksi buah kakao di kecamatan gedong tataan yakni 2154,64 ton/ha/panen. Produktivitas buah kakao di kecamatan gedong tataan relatif tinggi, hal tersebut dapat diketahui dari total produksi buah kakao per tahunnya sebesar 2154,64 ton/ha/th.

Kulit buah kakao merupakan limbah agroindustri yang berasal dari tanaman kakao yang umumnya dikenal dengan tanaman coklat. Komposisi buah kakao terdiri dari 74% kulit, 24% biji kakao dan 2% plasenta. Setelah dilakukan analisis proksimat, kakao mengandung 22% protein dan 3 – 9% lemak (Nasrullah dan Ela, 1993). Jika dihitung berdasarkan jumlah produksi per tahunnya, maka produksi limbah kulit kakao dapat dihitung dengan cara produksi buah kakao dikalikan dengan persentase kulit kakao, maka hasilnya 2154,64 ton x 74% = 1594,43 ton. Sedangkan produksi biji kakao dan plasentanya berturut-turut yakni sebesar 517,11 ton dan 43.10 ton. 

  Table 3. Rekomendasi pemberian limbah kulit buah kakao

Jenis Ternak

Jumlah

Konsumsi

Bentuk Pemberian

Sapi

3 kg/ekor/hari

Segar

Sapi

20% tepung pada pakan tambahan

Tepung

Kambing

2-3 kg/ekor/hari

Segar

Ayam

22% tepung pada ransum ayam

Tepung

Sumber: Zohdin (2010)

Dari data diatas maka dapat dihitung konsumsi limbah kulit kakao 1 unit ternak dalam setahun yakni jumlah konsumsi x jumlah hari dalam setahun , hasilnya 3 kg/ekor/hari x 365 hari = 1095 kg/ekor/th.

Berdasarkan data –data diatas maka dapat dihitung potensi daya tampung ternak dengan pemanfaatan pakan dari limbah kulit kakao dengan aturan rekomendasi menurut Zohdin (2010) yakni :

                  Daya tampung =   

                                          = 

                                  = 1456,10 UT

Artinya, dengan penggunaan limbah kulit kakao sebagai pakan campuran yang diberikan 3 kg perhari dalam bentuk segar, kemempuan daerah kecamatan gedong tataan dapat menampung 1456 ekor ternak sapi dewasa.

Tabel 5. Potensi daya tampung ternak di kecamatan gedong tataan

Ternak

UT

Daya Tampung (ekor)

Sapi betina umur ≥2th

1,0

1456

Sapi jantan umur ≥2th

1,3

1120

Sapi muda umur 1-2th

0,8

1820

Sapi pedet sapihan umur 1th

0,6

2426

Domba Pasca sapih

0,075

19413

Domba muda

0,100

14560

Domba induk dewasa

0,150

9706

Domba jantan dewasa

0,200

7280

Domba induk bunting/laktasi

0,150

9706

 

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan data hasil pengamatan dapat diambil kesimpulan, yakni:

  1. produksi buah kakao di kecamatan gedong tataan yakni 2154,64 ton/ha/panen. Produktivitas buah kakao di kecamatan gedong tataan relatif tinggi, hal tersebut dapat diketahui dari total produksi buah kakao per tahunnya sebesar 2154,64 ton/ th.
  2. produksi limbah kulit kakao di kecamatan gedong tataan dapat dihitung dengan cara produksi buah kakao dikalikan dengan persentase kulit kakao, maka hasilnya 2154,64 ton x 74% = 1594,43 ton.
  3. konsumsi limbah kulit kakao 1 unit ternak dalam setahun yakni jumlah konsumsi x jumlah hari dalam setahun , hasilnya 3 kg/ekor/hari x 365 hari = 1095 kg/ekor/th
  4. kemempuan kecamatan gedong tataan dapat menampung 1456 ekor ternak sapi dewasa.

Daftar Pustaka

 

 

Bakrie, B. et. al. 1999. Laporan Akhir Kajian Teknologi Spesifik Lokasi dalam Mendukung SPAKU Camping. LPTP Natar. Lampung.

Chadhoka, P.A. 1982. Gliricidia Maculata. A. Promishing Legume Fodder Plant. Word Amin Rep. No. 44, pp. 36-43.

Dinas Perkebunan Propinsi Lampung. 2003. Laporan Dinas Perkebunan Propinsi Lampung. Lampung.

Haryanto, B., I. Inounu, B. Arsana dan K. Dwiyanto. 2002. Panduan Teknis Sistem Integrasi Padi-Ternak. Badaan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Karo-karo, S., E. Sembiring dan J. Strait. 1994. Adopsi Teknologi dan Analisis Usahaternak Domba Hair dari Hasil Persilangan.CSU Sumatera Utara.

Lampung Dalam Angka. 2003. Pemerintah Daerah Propinsi Lampung, Badan Pusat Statistik dan Balitbangda Propinsi Lampung. Lampung.

Marhius, I. W. 1991. Tanaman Gliricidia sebagai Bank Pakan Hijaun untuk Makanan Kambing Domba. Wartazoa Vol 2. No. 1-2 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternak. Bogor.

Priyanti, A., T. D. Soedjana. 1990. Allocation of Work and Leisure Time by Potential Labor Sources Among OPP Farmers. West Java. SR-CSRP Working Paper no. 113.

Priyanto, D., A. Priyanti dan I. Inonu. 2004. Potensi dan Peluang Pola Integrasi Ternak Kambing dan Perkebunan Kakao Rakyat. Pemda Lampung.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juli 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: